Perjalanan
sejarah kota Makassar tidak bisa terlepas dan tak terpisahkan dengan keberadaan
Lapangan Karebosi. Lapangan yang
menjadi Landmark dan icon kota Makassar ini sangat melegenda
dan monumental serta dikenal luas hingga ke seluruh penjuru Nusantara maupun
manca negara.
Lapangan Karebosi ini sudah ada sejak masa pemerintahan Raja-raja
Gowa-Tallo. Dulu lapangan ini dijadikan sebagai sawah kerajaan
sekaligus sebagai tempat para raja dan rakyat berkumpul untuk bermusyawarah dan
sebagai tempat untuk mengadakan acara-acara besar lainnya.
Nama
Karebosi sendiri berasal dari 2 kata
dalam bahasa Makassar, yaitu KANRO dan BOSI. Kanro berarti Anugerah yang berasal dari Tuhan dan Bosi berarti hujan yang menyiratkan
kelimpahan. Dengan demikian KANROBOSI atau
KAREBOSI dapat diartikan atau
dimaknai sebagai tempat yang penuh berkah. Dalam pengertian yang lebih luas, Karebosi berarti memberi manfaat yang
sebesar-besarnya kepada siapa saja.
Sebagai
lapangan kebanggan masyarakat Makassar, keberadaan Lapangan Karebosi tentu membawa dan memberikan dampak positif baik dari segi ekonomi maupun dari nilai
historisnya. Ada banyak kisah menarik yang bercerita di balik sejarah Lapangan Karebosi. Salah satu yang
menjadi legenda di tengah masyarakat yaitu terdapatnya 7 makam misterius yang
disebut Makam Tujua Ri Karebosi.
Dari
berbagai sumber yang mengisahkan tentang 7 makam ini bercerita, bahwa pada abad
ke 10 terjadi musim kemarau yang sangat panjang, yaitu selama 7 tahun melanda
daerah Gowa, Makassar dan Tallo. Musim kemarau panjang tersebut membawa akibat
paceklik, tanaman padi maupun tumbuh-tumbuhan lainnya yang memberi kehidupan
kepada masyarakat tidak dapat tumbuh dengan baik. Hal tersebut menimbulkan
penderitaan, kekacauan dan konflik antara sesama penduduk.
Akhirnya
pada suatu waktu, tiba-tiba turun hujan yang sangat deras disertai bunyi guntur
dan petir yang berlangsung selama 7 hari tanpa berhenti yang mengakibatkan
banjir besar di mana-mana.
Pada
hari ke 7, hujan dan bunyi petir mulai surut dan akhirnya berhenti, yang
tersisa hanya hujan rintik-rintik yang menyisakan gerimis dan memunculkan
seuntai pelangi. Di areal persawahan yang belakangan dinamai KAREBOSI tersebut dalam waktu sekejap
menjadi kering. Lalu keajaiban terjadi, saat gerimis halus masih berjatuhan dan
pelangi masih terang terlihat, tiba-tiba muncul 7 gundukan tanah di
tengah-tengah areal persawahan tersebut dalam posisi berjejer dari arah Selatan
ke Utara dan menyebarkan bau bunga yang sangat harum.
Munculnya
7 gundukan tanah yang menyerupai makam tersebut membuat ratusan penduduk yang
kebetulan berada di sekitar tempat itu menjadi terpengarah dan kaget.
Selanjutnya,
beberapa saat kemudian dari 7 gundukan tanah, masing-masing muncul satu orang
yang memakai pakaian kuning keemasan. Jumlahnya ada 7 orang. Namun, ke 7 orang
ini hanya nampak sesaat, lalu menghilang di tengah hujan gerimis. Penduduk yang
menyaksikan peristiwa tersebut semakin kaget dan takjub antara percaya dan
tidak percaya atas apa yang mereka baru saksikan.
Masyarakat
Gowa dan Tallo pada waktu itu sangat percaya, bahwa ke 7 orang itu adalah TUMANURUNG yaitu Dewa dalam mitologi Makassar Bugis yang diutus oleh Tuhan untuk memperbaiki negeri mereka.
7
orang itu, yang kemudian mereka sebut dengan nama TUJUA, adalah sebagai KARAENG
ANGNGERANG BOSI atau Tuan yang Membawa Hujan. Dari situlah masyarakat pada
waktu itu memberi nama area persawahan tersebut dengan nama KANROBOSI,
yang kita kenal saat ini sebagai lapangan Karebosi.
Sedangkan
keberadaan 7 makam tersebut hingga saat ini masih tetap berada di tempatnya seperti semula. Pada saat
Revitalisasi Lapangan Karebosi, 7
makam tersebut turut direnovasi sehingga menjadi lebih baik dan tidak terkesan
angker.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar